10/20/2011

Penguasaan Diri



Tiap-tiap
orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya
dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu
mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang
abadi.
(I Korintus 9 : 25)

Pada
keadaan serta kondisi tertentu, terkadang seseorang tidak bisa menahan
emosi yang berkecamuk didalam hati dan pikirannya, karena seseorang
tersebut sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya untuk tidak
melepaskan amarahnya itu.

Dalam Firman Tuhan, tidak ada satu pun
ayat yang menyebutkan, kalau marah itu dilarang. Bisa diartikan,
sebagai bagian dari sifat manusia, emosi manusia bisa saja diungkapkan.
Namun ada satu ayat dari Firman Tuhan yang jelas-jelas mengatakan :
kalau kita marah, janganlah kita berbuat dosa.  

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa : janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.   (Efesus 4 : 26)
Seseorang
terkadang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika rasa amarah sedang
melingkupi dirinya. Ketika keadaan itu terjadi, disadari atau tidak,
seseorang tersebut telah melakukan atau mengucapkan sesuatu hal yang
salah. Kesalahan yang terjadi, pada akhirnya bisa membuat diri
seseorang itu dianggap telah melakukan kesalahan, atau mendapat sikap
bermusuhan dari orang lain.

Banyak diantara anak-anak Tuhan yang
pernah mengalami pergumulan karena sikap emosional yang tidak mampu
dikendalikannya, kemudian membuat diri mereka, harus menghadapi adanya
permasalahan baru, yang pasti sangat tidak diinginkannya terjadi. Siapa
sih, orang yang senang hidup dalam kondisi penuh polemik kehidupan?  

Perkataan
yang diucapkan dengan tidak simpatik (berisikan kata-kata kotor, kasar,
hinaan, merendahkan, dll), maupun tindakan menyerang fisik, merupakan
tindakan serta pernyataan yang ditujukan untuk membangkitkan rasa
amarah orang lain atau menyakiti diri seseorang, merupakan sebuah
keadaan yang bisa menghadirkan adanya penilaian bersalah, tidak hanya
dari sisi pandang manusia, namun juga di mata Tuhan.

Mungkin
kita bisa saja menyatakan, bahwa apa yang kita lakukan itu, adalah
sebuah upaya untuk membela diri. Padahal, apabila kita mampu menahan
rasa amarah kita, maka kita akan sangat tahu serta menyadari, kalau
tindakan atau pernyataan kita itu, memang tidak dapat dibenarkan,
dimana segala alasan yang kita nyatakan kemudian, dapat dinilai sebagai
sebuah pembenaran.

“Segala
sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu
membangun.
(I Korintus 10 : 23)

Terkait
dengan isi Firman Tuhan itu, kita harus mengingat, apabila kita dalam
kondisi marah, kita harus segera menyadari lebih awal, kalau segenap
tindakan atau perkataan bernada tidak simpatik, bukanlah sebuah keadaan
yang bisa membuat kita menerima keadaan yang lebih baik di masa yang
akan datang.

Kemarahan diri yang diikuti oleh adanya tindakan
menyerang fisik orang lain maupun mengucapkan kata-kata yang bisa
memancing amarah orang lain, bukanlah sebuah perbuatan benar atau
tindakan yang bisa dibenarkan.

Bagaimanapun, sebagai orang yang
percaya dan beriman kepada Kristus, kita harus bisa menempatkan hukum
kasih itu sebagai landasan kita dalam berucap serta berbuat sesuatu
kepada orang lain. Kita harus mengingat, sebelum kemarahan itu berada
pada puncaknya, kita harus bisa mengendalikan diri kita.

Well, ternyata tindakan penguasaan diri itu, merupakan bagian dari buah-buah Roh, dimana letaknya, ada pada bagian akhir.
Tetapi
buah Roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri.   (Galatia 5 : 22)

Adanya
tindakan penguasaan diri sebagai bagian dari buah-buah Roh yang
dinyatakan dalam Firman Tuhan, itu menandakan, kalau upaya diri kita,
untuk mampu menahan rasa amarah agar tidak menghadirkan dosa, serta
agar segenap perilaku kita, tidak mengundang rasa amarah dari orang
lain, merupakan satu bagian dari perbuatan yang menghasilkan buah-buah
Roh.

Kuatnya kemauan diri untuk mampu mengendalikan dan
menguasai diri kita sendiri, merupakan sebuah keputusan yang harus
segera kita ambil pada saat amarah telah melingkupi diri kita. Kita
harus sadar lebih awal, bawah segenap tindakan atau ucapan salah,
memiliki konsekuensi yang akan kita tuai di hari esok.

Bukankah
lebih baik, apabila kita menghindari dosa sejak awal daripada kita
harus melakukan pergumulan untuk mengatasi adanya konsekuensi dan dosa,
di masa yang akan datang?

Lalu, bagaimanakah caranya agar kita dapat memiliki kepribadian diri, yang mampu menguasai diri?
1.    Belajarlah untuk bersabar dan mampu menahan emosi.
2.    Usahakanlah untuk tetap bersikap tenang pada saat kita menghadapi konflik atau pertentangan sikap dengan orang lain.
3.    Berusahalah untuk bisa menghormati atau menghargai orang lain.
4.  Tumbuhkanlah sikap pengertian dan pola pemahaman yang begitu mendalam
kepada keadaan atau pernyataan yang diungkapkan orang lain.
5.  Cobalah untuk menumbuhkan sikap tidak mudah terpengaruh atas sikap
yang bisa memancing kemarahan besar dari dalam diri kita, sehingga
kemarahan diri kita, tidak mudah dikuasai atau terbawa arus oleh emosi
orang lain.
6.    Berikanlah pemahaman yang baik tentang keadaan
atau situasi pelik yang sedang kita hadapi, dengan menggunakan
kata-kata yang tidak membangkit-bangkitkan rasa kesal atau amarah orang
lain.

Tuhan Yesus sendiri juga pernah menunjukkan amarahNya,
yaitu pada saat diriNya menemukan kondisi halaman Bait Allah yang
dipenuhi oleh para pedagang. Pada saat itu, Tuhan Yesus menunjukkannya
dengan penuh wibawa, yaitu sebagai Pribadi yang Empunya Kerajaan Sorga,
sehingga sikap marahNya pada saat itu, tidak membuat diriNya terjatuh
kedalam dosa.

Kita boleh saja marah. Kita boleh menunjukkan rasa
amarah kita. Namun kita harus mengingat dan memberi batasan atas
kemarahan kita itu, dengan tetap menguasai diri, agar kita tidak
terbawa arus kemarahan kita, sehingga ketika kita marah, kita tidak
jatuh dalam dosa.

Besarnya keinginan untuk memperoleh kehidupan
kekal bersama orang-orang terpilih lainnya didalam Kerajaan Sorga,
merupakan dambaan setiap orang percaya, sebagai sebuah tujuan akhir
kehidupan. Ingat, kehidupan kekal adalah tujuan akhir…

Impian
teramat indah tersebut, jangan hanya menjadi impian semata, oleh karena
kita lalai atau tidak mampu menjaga sikap, perilaku serta perkataan
kita, pada saat emosi sedang melingkupi diri kita.

Janganlah
membuat diri kita jatuh kedalam dosa dengan membangkit-bangkitkan rasa
kesal dan amarah orang lain. Namun kita harus membuat diri kita
memiliki kerinduan, untuk melihat orang lain bertumbuh didalam kasih
karunia, sehingga orang lain juga tahu bagaimana mereka harus
mengendalikan amarah mereka.

Apabila kita bertindak dengan cara
demikian, telah membuat kita melakukan hal yang sama seperti yang Tuhan
kehendaki dan telah Ia contohkan agar kita pun melakukan tindakan yang
sesuai dengan kasih Allah.  

Saudara-saudara,
memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu
mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam
dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
(Galatia 4 : 13)

Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.   (Galatia 4 : 15)

Buah Roh – Pengendalian Diri
Dikutip dari Fruit of The Spirit, John w. Sanderson

PENDAHULUAN
Pengendalian diri adalah buah roh yang kesembilan dan terakhir yang sudah ditulis oleh Paulus dalam Galatia 5:22-23. Walaupun ini adalah buah roh yang terakhir, pengendalian diri tidak kurang penting dari buah roh lainnya dalam kehidupan kristiani kita. Dapatkah orang Kristen memiliki sifat yang tidak dapat dikendalikan dan tetap menjadi orang Kristen? Jarang! Anak Allah, yang kita kenal sebagai Tuhan Yesus dan guru, adalah menjadi contoh kehidupan yang dikontrol oleh kuasa tangan Tuhan.

Dalam Galatia 5:23, “pengendalian diri” berasal dari kata egkateria dalam bahasa Yunani yang berarti memiliki kuasa, kekuatan, menguasai dan mengendalikan diri. Oleh karena itu kata pengendalian diri berarti dapat menguasai keinginan dan kemauan diri sendiri. Namun kata ini tidak tertuju pada kendali dalam keinginan dan kemauan diri sendiri. Ini dapat diaplikasikan dalam tindakan ketaatan, penyerahan diri dan hidup yang tak berdosa. [Ketua FA diskusikan dengan anggota mengenai apa yang mereka mengerti mengenai kata pengendalian diri]

Sangatlah berbahaya apabila adanya kuasa tanpa kendali. Kuda liar yang sangat kuat apabila tidak dikendalikan dapat melukai penunggangnya. Kekuatan atom apabila dikendalikan dengan baik dapat membantu untuk menghasilkan listrik bagi rumah-rumah dan pabrik (energi nuklir). Namun bila ini tak dapat dikendalikan, kekuatan atom dapat menghancurkan suatu kota (bomb atom). Bagaimana kita dapat mempraktekkan pengendalian diri ditengah dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan ?

 Mari kita belajar bersama ,hal-hal apa saja yang harus kita tanamkan dan cabut agar buah pengendalian diri dapat tumbuh.
PEMBAHASAN

1.       Apa yang harus kita tanamkan
a.       Belajar untuk mengandalkan Roh Kudus sebagai penasehat kita.
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16).

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timothy 1:7).

Tuhan memberikan RohNya ada pada kita untuk membantu kita agar kita semakin serupa denganNYa. Daripada kita membuat dan mengambil keputusan berdasarkan kemauan kita sendiri, lebih baik kita bertanya lebih dahulu pada Roh Kudus. “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6). Semakin sering kita datang kepada Roh Kudus, Dia akan membantu untuk menjaga kita, meluruskan jalan-jalan kita dan memuliakan nama Tuhan. Apabila kita tidak dapat menahan emosi, selera makan ataupun hawa nafsu, datang kepada Tuhan dan minta pertolongan Roh Kudus agar kita diberi kekuatan dan pertolongan untuk mengatasi cobaan tersebut.

Percaya kepada Tuhan dan mengijinkanNya mengkontrol hidup kita. Minta agar Roh Kudus semakin ditambahkan dalam kehidupan kita agar Dia dapat membantu mengendalikan hidup kita. Dia tidak akan pernah gagal untuk memenuhi setiap janjiNya, karena apa yang kita minta sesuai dengan tujuan Tuhan untuk menjadikan setiap dari kita semakin serupa dengan gambaranNya.

b.      Belajar untuk memiliki pengendalian diri seorang atlit
“Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang  pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, mereka menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota ynag abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarang saja memukul” (1 Korintus 9:24-26).

Pastor Paulus berkata “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, mereka menguasai dirinya dalam segala hal.” Bukan saja berkonsentrasi pada saat dalam pertandingan, namun juga dalam setiap kehidupan sehari-hari. Karena kehidupan sehari-harinya akan mempengaruhi pertandingan. Pelari harus mengikuti latihan-latihan intensif yang sudah disiapkan setiap hari, mengkonsumsi pola makan yang sehat dan istirahat yang cukup. Mereka akan menghindari hal-hal yang akan mempengaruhi program yang sudah ditetapkan.
Seperti mereka, kita juga harus memiliki disiplin yang sama dalam kehidupan kerohanian kita sehari-hari. Kita harus fokus kepada mahkota yang Tuhan akan berikan pada akhir pertandingan hidup kita. Daniel menjalani hidup dengan pengendalian diri. Dia dan teman-temannya tidak mau memakan makanan raja walaupun dunia menganggap bahwa makanan itu baik untuk mereka. Daniel berdoa 3 kali sehari secara rutin (Daniel 6:10). Kita dapat melihat bahwa dalam hidupnya, Daniel memiliki disiplin seperti seorang atlit.

2.       Apa yang harus kita cabut
a.       Tubuh yang tidak dapat dikendalikan
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27).

Kita harus bisa menguasai tubuh kita. Apabila kita tidak mempraktekkan pengendalian diri pada tubuh kita, kita akan memiliki hidup yang tidak sehat. Beberapa orang memikiki kecanduan kepada oabt-obat terlarang, alkohol, sex dan juga pornografi. Mereka mengijinkan daging mereka untuk mengendalikan hidup mereka sehingga mereka terperangkap dalam kecanduan hal tersebut. Bila kita gagal untuk mengendalikan keinginan tubuh kita sendiri, kita akan menjadi seperti dunia ini yang berfokus dalam memenuhi segala keinginan daging. Dengan ini, bukan berarti kita harus melupakan tentang kenyamanan. Tetapi apa yang Tuhan mau adalah agar kenyamanan dunia itu menjadi bagian kecil dalam hidup kita dan mengijinkan Tuhan mengambil bagian terbesar dalam hidup kita. Tuhan Yesus berkata, sebagai orang percaya, kita tinggal di dunia, tetapi kita bukan menjadi milik dunia ini. Salah satu cara agar daging kita dapat dikendalikan adalah dengan berpuasa. Kita mengalihkan fokus dari kelaparan kita akan hal-hal dunia kepada lapar akan Tuhan. Degan itu kita akan membawa tubuh ini dalam kendali.

Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana dia dapat mengendalikan dirinya walaupun dia sedang berpuasa selama 40 hari. Tuhan tidak masuk dalam cobaan iblis untuk mengubah batu menjadi roti. Yusuf, anak Yakub, juga menunjukkan bagaimana dia mempraktekkan pengendalian diri saat dia menolak cobaan istri Potifar. Tuhan mengingatkan kita agar kita menguatkan hati kita karena Tuhan sudah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33) dan kita lebih dari pemenang dalam Kristus Tuhan (Roma 8:37).

b.      Roh yang tidak dapat dikendalikan
“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).

Pengendalian diri tidak saja hanya terbatas dalam kehidupan fisik namun dalam kehidupan rohani kita juga. Alkitab menulis bahwa amarah, iri dan dengki adalah contoh roh yang tidak disiplin. Sangatlah menarik bila kita memperhatikan bahwa roh yang disiplin itu lebih besar dari sekedar mendapatkan sesuatu seperti yang dikatakan oler raja Salomo dalam Amsal 16:32. Roh yang tidak displin akan selalu memikirkan hal-hal duniawi. Dunia akan mempengaruhi pikiran kita mengenai kejadian-kejadian yang terjadi hari ini, politik, pekerjaan dan kesenangan duniawi. Pikiran kita adalah medan pertandingan kita. Bila seseorang menyakiti anda, bisa saja kita akan terus memikirkan tentang kejadian tersebut dan bagaimana cara membalasnya atau bagaimana cara mengampuni orang tersebut. “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” Amsal 23:7. Hal apa yang sedang mengisi pikiran kita hari ini? Apakah itu tentang perkataan firman Tuhan?

Dalam Filipi 4:8, Paulus berkata, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Bila kita memeras buah jeruk, kita akan mendapat jus jeruk. Sama juga, saat manusia sedang diperas (mengalami masa yang sangat sulit), kita akan melihat apa isi hati dan pikirannya. Oleh sebab itu, isilah pikiran kita dengan Firman Tuhan dan hal-hal yang akan memuliakan namaNya agar kita dapat memuliakan Tuhan dalam segala hal.



emauan kata yang terlupakan di tengah-tengah sebagian besar kalangan Kristen hari ini. Banyak dari kita yang lemah, lembek, dan berlemak baik tubuh kita atau dalam hati. . . atau keduanya.
Pemakaian yang berlebihan dan prestasi rendah di zaman kita telah membuat monster otak yang malas, visi yang kabur, tangan yang serakah, kulit yang tipis, orang yang ragu, dan pencari aman.
Apa yang telah melahirkan hal aneh ini, produk yang lembek? Orang Yunani akan berkata: "Kurangnya ofenkrateia yang serius." Itu bukan vitamin, itu --- kebajikan pengendalian diri.
Kata sebenarnya berarti "kekutan atau kekuatan batin." Diperluas, hal itu termasuk hal-hal seperti memiliki penguasaan atau kepemilikan atas sesuatu, kekuatan mengendalikan kehendak (di bawah kuasa Roh Allah), kekuatan batin untuk melawan dan menahan diri, kekuatan untuk tidak memanjakan diri, bukan untuk bertindak berdasarkan dorongan .
Paulus menggunakan istilah ini dalam 1 Korintus 7:9 mengenai pengendalian hasrat seksual. Dia merujuk pada pasal 9:25 dimana dia berbicara tentang atlet yang memiliki kendali atas tubuh dan hal ini dilakukannya selama periode pelatihannya, sebuah disiplin.
Kaku, disiplin berat masuk ke pelatihan seperti itu, dicampur dengan keterpisahan dan kesepian. Disiplin jiwa - hal inin adalah teman setia dari atlet Yunani abad pertama. Enkrateiabecame adalah nama tengahnya selama sepuluh bulan.
Dalam Galatia 5:23, kebajikan ini ada dalam daftar buah-buah Roh. Tetapi supaya jangan Anda pikir itu adalah sesuatu yang Tuhan tiba-tiba berikan pada Anda tanpa keterlibatan pihak Anda, izinkan saya mengutip 2 Petrus 1:5-6 untuk menjaga segala sesuatu dalam keseimbangan:
Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,

Ada dua hal yang Anda perlu amati disini. Pertama, ini adalah serangkaian perintah ke pada orang Kristen --- sebuah tanggung jawab. Kedua, untuk melaksanakan perintah ini memerlukan "menerapkan semua dengan baik" --- ini akan menuntut pengorbanan. . . emosional, keringat, dan air mata!
Perlu diingat,  saya ingin menerapkan pengendalian diri untuk hidup kita hanya dari dalam keluar. Tentu saja, kita adalah produk dari apa yang kita pikirkan. Tindakan dan reaksi kita berasal dalam pikiran kita. Apa yang Anda pikirkan? Apa yang paling banyak  menghabiskan sebagian besar energi mental Anda?
Beberapa pertanyaan diatas pernah menghantui saya ketika mempertimbangkan bagaimana suatu fenomena seperti menonton TV telah begitu benar-benar membuat jenuh masyarakat kita. Pertimbangkan fakta-fakta berikut:
Sembilan puluh lima persen rumah tangga di Amerika --- lebih dari 60 juta rumah --- punya televisi. 100.000 tambahan set selalu ditambahkan setiap bulannya. Lebih dari 106 juta orang dewasa menemukan diri mereka di depan tabung itu setiap minggunya
Saya tidak perlu mengingatkan Anda bahwa saya tidak anti-TV. Saya sendiri dan saya benar-benar menikmati melihat program yang dipilih secara teratur ketika  waktu mengizinkan. Namun,hal ini sangat serius ketika sebuah bangsa seperti kita telah menjadi begitu kurang dalam pengendalian diri bahwa kita tidak dapat mengubah satu-inci tombol untuk "off" dan memberikan pikiran dan mata kita yang butuh istirahat dari ledakan kosmos propaganda yang konsisten.

Sayang bahwa banyak orang Kristen lebih hafal jadwal TV daripada satu bab dari Firman Allah yang berharga. Karena kurangnya mental pengendalian diri, dikendalikan oleh  hasrat untuk menjadi terhibur dan geli, bukannya ditantang melalui membaca atau diskusi keluarga atau diam meditasi dan membuat perencanaan dan penetapan tujuan pribadi.

Saya sarankan Anda menyerang masalah ini dengan senapan terisi, bukan hanya sekali tembak. Ambil satu daerah yang perlu Anda perbaiki pada satu waktu dan tembak ke dengan doa dan tekad tak kenal lelah ketika Roh memberikan bubuk mesiu. Saya rasa saya mendengar beberapa tembakan sudah.
Jangan gagal untuk menarik kuasa Tuhan saat Anda melatih pengendalian diri, ketahuilah bahwa kekuatan-Nya bersama Anda. Pahami dan percayalah apa yang tertulis di Roma 8:9-14.
                               
                                                 
Pengendalian Diri
Gal 5:22,23 :"Tetapi buah Roh ialah: kasih,......, pengendalian diri."

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan, tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita harus meninggalkan pengertian dan pengendalian diri kita.
Jadi waspadalah terhadap pandangan atau pengajaran yang mengatakan bahwa kita harus sepenuhnya menyerahkan pengendalian kepada Roh Kudus agar dapat mengalami kuasa Tuhan. Pandangan atau ajaran ini hanya separuh benar.
Ini banyak dianut oleh orang orang Kristen yang sungguh-sungguh dan yang sadar bahwa tidak ada perkara besar yang terjadi melalui hidupnya tanpa Allah.
Mereka berpikir bahwa "aku orang yang terbatas dan berdosa, jadi aku harus menyerahkan seluruh akal budi dan tubuhku ke dalam pimpinan Roh Kudus..." Kedengarannya baik, namun kesalahan dapat menyelinap masuk ke dalam pikiran dan perilaku kita dengan tidak kita sadari.

Kemampuan untuk mengerti telah diberikan kepada kita untuk menentukan pesan dan tindakan yang mana yang berasal dari Tuhan dan yang mana yang bukan. Ini kita lakukan melalui pengendalian diri baik secara fisik maupun mental.
Kita telah dilengkapi dengan suatu kepribadian, pikiran dan kehendak agar Dia dapat memakai semuanya itu memuliakan untuk pekerjaanNya.
Agar Tuhan bekerja melalui kita, maka kita harus mengendalikan tubuh dan pikiran kita. Kita harus menguasai setiap pikiran yang kita ijinkan untuk diikirkan oleh otak kita.
Mari kita kendalikan pikiran kita dengan kekuatan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita.
Jadi teruslah berpikir, teruslah mengerti. Teruslah membuat keputusan sebijak mungkin dalam ketergantungan dalam doa kepada Tuhan, dan Dia akan memakai kita melalui pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita yang kita kendalikan sendiri.

Bapa disorga, kami mau senantiasa berbuah-buah Roh dalam kehidupan kami agar pengenalan kami akan Engkau semakin hari semakin meningkat dan bertumbuh sesuai dengan kualitas seorang mempelai bagi Kristus. Kami sadar betapa pentingnya pengendalian diri, karena tanpa pengendalian diri, sulit kuasaMu bekerja melalui diri kami. Dalam nama Yesus Kristus kami mohon ya Roh Kudus melalui kekuatan kuasaMu kami boleh mendasarkan pikiran dan tindakan kami kepada Firman Tuhan saja. Amin.


                                                 

0 komentar:

Poskan Komentar